Pertemuan Singkat~


Ini adalah CERPEN pertamaku. Dibuat pada tanggal 28/11/2013 dan selesai dalam waktu 4 hari :D *penting gak sih-__-* 
Lanjut ,selamat membaca :33

 Kuberjalan terus tanpa henti
Dan dia pun kini telah pergi
Kuberdoa di tengah dingin dunia
Kuberdoa untuk dia yang kurindukan   
           
         Itulah lagu yang akhir – akhir ini jadi soundtrack hidupku. Lagu yang menjadi teman hidupku disaat dia pergi meninggalkanku. Dia, dia yang selalu ada disaat ku rapuh. Dia yang selalu ada disaat senang maupun duka. Dia yang selalu menghiburku, menemaniku saat aku sendiri. Dia dan hanya dia.
              Tak terasa hujan pun turun membasahi pipiku. Disini, ditempat ini, tempat yang menjadi saksi saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Masih terngiang dimana saat kau mengatakan kata-kata romantis untukku, bercanda, tertawa ditempat ini. Tapi sekarang tinggalah aku sendiri disini tanpa kau disisiku. Hancur remuk sudah perasaanku yang kau buat dalam sekejap.
            Ingin kulalui hari-hariku seperti dulu dikala kita masih tertawa, berjalan, dan bercanda bersama. Aku masih ingat betapa perhatiannya dirimu saat aku membutuhkanmu. Betapa nyamannya hatiku saat itu. Tapi kini engkau telah menjadi menjadi milik sahabatku …
***
            Nama gue  Vania Putri Zatira Abadi.Gue  biasa dipanggil  Vania. Saat ini gue duduk dikelas dua SMA.  Dan hobby gue sekarang adalah menulis. Entah darimana asalnya yang pasti gue seneng banget sama hobby gue sekarang. And once again gue seneng banget hangout bareng temen-temen gue. Huh jadi kangen nih sama mereka. Apa gue telpon Seina aja ya, pikirku. Kuambil handphoneku yang ada di nakas dan kucari contact name Seina di iphoneku. “Halo Seina”, kataku memastikan. “Iya ada apa Van?” balasnya.”Main yuk beb. Kemana gitu cari hiburan sepi nih di rumah”, kataku.”Boleh. Gimana kalau Journey Coffee aja. Disana baru ada konser akustikan”, jawabnya. “ Ok. Pasti seru , lima belas menit lagi aku sampai di rumahmu”, kataku.
           
              Oya gue lupa ngenalin Seina. Seina itu sahabat gue dari SMP dan sekarang gue masih deket banget sama dia. Bahkan saat awal masuk SMA gue bela-belain supaya bisa satu sekolahan lagi sama. Dan hasilnya gue berhasil satu sekolahan sama Seina setelah ngeluarin jurus andalan maut gue ke orang tua yaitu mogok makan selama satu minggu. Gila nggak sih gue, well itu adalah salah satu dari beratus-ratus, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta jurus andalan maut gue buat ngerayu orang. Kalau dijadiin buku mungkin lima buku jadi.
            Okey-okey kita balik ke topik awal. Dan taraaa…. Sekarang gue udah sampai di depan rumah Seina. Wow tepat waktu juga gue… Tiinnn…Tiiinnn… Kupencet klakson mobilku beberapa kali supaya Seina cepat keluar. Tak lama kemudian Seina pun keluar. “Sabaran dikit kenapa sih Van”, katanya jengkel. “Hahaha…”, aku pun hanya membalasnya dengan tertawa.

            Tiga puluh menit kemudian kita udah sampai didepan Journey Coffee. Kami pun memakirkan mobil kami dan turun dari mobil. Saat kami akan masuk ke dalam kafe ternyata pengunjung kafe disana sudah banyak jadi kami harus mencari kursi terlebih dahulu. Dan akhirnya kami menemukan tempat duduk dipojok sebelah kiri. Kami pun duduk dan langsung memesan kepada waiter.
            Sambil menunggu pesanan kami bercerita dan bercanda. Saat itu juga perhatianku tertuju pada segerombolan orang  yang sedang berjalan menuju panggung. Dan ternyata itu adalah band akustik yang akan mengisi hiburan di kafe ini. Tapi mataku saat ini hanya tertuju pada seseorang  yang  sedang berbicara untuk mempersembahkan lagu yang akan dinyanyikan. Terdengar alunan lembut  lagu  I Will Fly  dari Ten Two Five(125) yang dinyanyikan oleh pria tersebut. Sungguh aku terpesona dengan suaranya mungkin juga dengan orangnya. Tinggi, lembut, keren, dan kelihatannya sih dia smart. Duh kenapa jadi ngaco gini sih pikiran gue.
            “Helloooo… Van Van … Oi…”, suara Seina menyadarkan lamunanku.”Hmmm… Ada apa sih?..”Tanyaku. “Ada apa, ada apa, lo itu gimana sih orang diajak ngomong malah ngelamun aja. Apa karena cowok yang didepan itu ya? Hayoo ngakuuu…!Katanya menggoda. “Iihh apaan sih orang gue lagi nikmatin lagunya kok.Suaranya itu lo bagus banget”, kataku bohong. “Suaranya apa orangnya yang bagus?” Jawabnya menggodaku lagi. “Ih bukan Seinn… Kamu tu ya ngeselin banget deh”, kataku agak jengkel. “ Hahaha… Sumpah muka lo tu kayak kepiting rebus tahu nggak sih…” kata Seina menggodaku lagi untuk yang kesekian kalinya.
            Aku mendengus sebal karena ejekannya. Tak kuhiraukan apa yang ia katakan padaku. Tiba-tiba terdengar riuhan suara tepuk tangan penonton. Aku yang tidak tahu apa-apa ikut tepuk tangan juga. Begitu juga dengan Seina. Ternyata band tersebut sudah selesai bernyanyi. Dan sekarang dia memberikan kesempatan kepada penonton untuk request lagu. Tak pernah kuduga dan kusangka-sangka tiba-tiba saja Seina mengangkat tangan kananku untuk mengacungkan tangan. Dan pertanda bahwa aku akan request lagu. Dalam hati aku mengutuk perbuatan Seina padaku yang telah mempermalukan aku. “Ya mbak nya yang ada disana. Silahkan mau request lagu apa?” Tanyanya. “Aku yang belum  siap akan pertanyaannya hanya bisa diam sambil mengatur kembali degup jantungku yang berdetak kencang. Aku pun menarik nafasku sedalam-dalamnya untuk menormalkan degup jantungku kembali. “Eeeh eeh lagunya, lagunya ME yang Inikah Cinta”, jawabku ragu. “Ok. Lagu Inikah Cinta dari ME saya persembahkan utnuk mbaknya yang ada disana”, katanya mempersembahkan lagu itu untukku.
Terdengar suara petikan gitar mengalun lembut ditelingaku. Sungguh gue udah jatuh cinta sama permainan gitarnya, suaranya, dan bisa jadi sama orangnya. Sebentar, tunggu tunggu tadi dia bilang kalau lagu itu buat.  What? Buat gue?. Lagu itu dipersambahakn buat gue. OMG… Oksigen mana  oksigen, gue butuh oksigen sumpah kenapa jntung gue jadi nggak karuan kayak gini ya. Oh demi Neptunus. Entah ide darimana coba bisa-bisanya gue request lagu itu. Dan itu yang semakin ngebuat jantung gue jadi berdetak semakin keras dan aliran darah gue mengalir sangat cepat. Oh Neptunus, please help me….
Aku tidak menyadari kalau lagu yang dinyanyikan itu sudah selesai. Dan Seina terkutuk sialan itu sudah go away dari tadi. Seina awas lo, lo udah buat gue malu tahu nggak sih. Dan jangan salahkan gue kalau nanti gue nggak mau nganterin lo pulang. Dan gue nggak peduli dia nanti mau pulang sama siapa, naik apa, bayar pakek apa, masa bodoh all about her.
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku  dan pergi menuju tempat parkir. Dan saat di tempat parkir gue bertemu dengan cowok yang nyanyi di kafe tadi. Oh  no, kenapa dengan jantung gue lagi, dag dig dug. Oh no, kenapa dia jalan ke arah sini ya… Oh Neptunus gue harap dia jangan mendekat, jangan mendekat, jangan mendekat. Dan tak diduga, tak disangka,”kenalin gue Vino”,katanya memperkenalkan diri. Ku tarik nafas pelan pelan terlebih dahulu supaya tidak kelihatan gugup didepannya . Hhhhmmmm…. “Gu gu gu gue Vania Putri. Lo boleh panggil gue Vania”, jawabku masih tetap gugup. “Oya perasaan tadi kamu berdua kan, kenapa sekarang sendiri”, katanya. “Oh tadi gue bareng sama Seina sohib gue. Kayaknya sih udah di mobil dulu deh”, jawabku kagok. “Oh, yaudah gue duluan ya, udah ditunggu nih. Bye. See ya”, ucapnya. “Oh yaa bye. Ok see ya”, ucapku sambil melihat dia berlalu dari hadapanku.
 Kulihat dia berjalan semakin jauh dan semakin jauh dari hadapanku. Ada rasa kehilangan saat dia pergi. Gue berharap bisa ketemu dia lagi dan bisa kenal dia lebih jauh lagi dari ini. Bukan cuma sekedar kenal biasa atau teman biasa tapi lebih dari itu. I wish it…. Sepertinya gue ingat sesuatu tadi kan gu gu gue … “Seiiinnnnnaaaa….. Awas lo”.
***
Tiga bulan kemudian….
Dan disini sekarang tempat gue berda didalam sebuah kafe sambil menatap langit-langit kafe. Gue masih saja belum bisa ngelupain dia, Vino. Orang yang sudah buat gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat dia menyapaku di kafe ini. Kafe dimana gue request lagu dan dia mempersembahkan lagu itu buat gue, dia dia dia. Tuhan, gue nggak bisa seperti ini terus dia terlalu berarti buat gue. Kuacak- acak rambutku, kenapa gue jadi lemah gini sih cuma gara- gara cowok kayak dia. Cowok yang udah berani selingkuh dengan Seina, sahabat gue sendiri. Orang yang selama ini gue percaya dan sudah gue anggap seperti saudara gue sendiri.
Tiba- tiba saja aku meneteskan air mata. Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Mengingat pengkhianatan yang dilakukan dua orang yang gue sayang. Gue benar-benar nggak percaya tentang apa yang telah terjadi.
Oke oke gue harus kuat. Gue harus move on, gue nggak bisa hidup kaya gini terus. Dan tiba-tiba saja ada seseorang yang berdiri dihadapan gue sambil membawa sapu tangan dan memberikannya padaku. “Nih buat lo. Udah jangan nangis lagi. Gue nggak bisa lihat cewek nangis”, katanya yang membuat hati gue jadi tambah tenang. “Thanks”, jawabku singkat karena nggak tahu mau ngomong apa lagi. Setelah itu dia duduk dikursi depan gue.
Kami hanya saling berpandangan dalam diam. Tidak tahu harus ngomong apa. Setelah beberapa menit akhirnya dia yang  mau memulai terlebih dahulu pembicaraan diantara kami. “Oh ya kita tadi belum kenalan. Gue Radix Rahma Putra. Panggil aja gue Radix”, katanya memperkenalkan. “Gue Vania Putri Zatira Abadi. Panggil aja gue Vania”, ucapku. “Sendirian saja? Biasanya kan bareng cowok lo kalau nggak temen lo yang itu”, katanya. “Iya. Gue udah putus sama dia. Dia selingkuh sama temen gue itu.  “kok bisa gitu?”, katanya. “Entahlah”...
              Setelah gue kenalan sama tu cowok gue jadi sering berkomunikasi sama dia, dan nggaktau kenapa gue udah nggak peduli lagi sama Vino ‘mungkin awal gue move on kalee yee’.... Gue ngerasa ada sesuatu yang beda aja dari dalam diri Radix ,dia itu cuek. Dan gue paling suka sama cowok yang cuek. Duhh, perasaan apalagi ini ,Tuhan! Apa gue udah bener-bener move on dari Vino? Apa gue punya perasaan untuk Radix? Tuhan, please help me.
***
         Lima bulan kemudian...
Nggak tau kenapa akhir-akhir ini gue sering banget mikirin Radix, setelah sekian lama nggak ketemu gue jadi kangen banget sama tu orang.  Dan tiba-tiba ada panggilan masuk dari iphone-ku dan ternyata itu Radix. Oh My God. “Hallo van ,gimana kabar lo? Masih belum move on juga? Haha” katanya. “Eh ,kurangajar lo! Siapa bilang gue belum move on? Soktau deh! Iyee ,gue baik-baik aja kok. Lo gimana? Masih belum punya pacar juga?” Kataku meledek.”Baik kok. anjirr, kurangajar  lo Van! Eh ,ketemuan yuk!” katanya. “Ketemuan? Dimana?” Jawabku. “Nggak usah kebanyakan tanya! 30 menit lagi gue sampai rumah lo!” Katanya.  
***
  Tinn....Tinn...Tinnn....
        “Rumah orang woy ,sabaran dikit kenapa sih!” Kataku jengkel. Radix pun hanya membalas dengan senyuman ‘senyumnya , ya Tuhan!’.
         “Kita mau kemana sih?” Tanyaku.  “Nggak usah cerewet” Jawabnya. “Nyebelin banget sih lo!” kataku jengkel.
Akhirnya gue sama Radix sampai di tempat yang gak jelas dan gue gak tau letaknya dimana tapi sumpah tempat ini tu kereenn bangett ‘gila gak sih tu orang?
“kalo gue lagi sedih dan butuh hiburan gue pasti kesini” katanya. “Ternyata lo bisa galau juga yee? Haha , terus apa hubungannya lo ngajak gue kesini?”Jawabku bingung. “Gue pengen buat tempat ini jadi tempat yang bersejarah buat gue!”. “Maksud lo?” tambah bingung neh gue. “Van ,gue suka sama lo ,lo itu beda dari yang lain ,lo baik ,lo lucu ,lo apa adanya ,dan gue sayang banget sama lo! Lo mau gak jadi pacar gue?”Katanya. spechless, sumpah gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Rasanya kaya terbang sampek langit ke tujuh! Oh shitt. “Emm ,gue mau kok jadi pacar lo. Gue juga sayang sama lo”jawabku...

         Mungkin ini awal dari perjalanan cinta gue. Semoga Radix bisa jadi yang terbaik buat gue aminn. Emmm ,Vino? Buang aja ke laut! Haha :D 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Pertemuan Singkat~"

Posting Komentar